A.
Definisi
Konseling
Berikut
ini adalah pengertian dan definisi konseling :
ANTHONY
YEO
Konseling merupakan sejenis pertolongan emosional,
psikologis, yang disediakan untuk mereka yang menghadapi situasi - situasi
hidup yang agak tidak wajar, dimana mereka mengalami sejumlah besar masalah
ROBINSON,
1986
Konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang,
dimana seseorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara
efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling
menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi,
melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui
pengambilan keputusan
SHERTZER
& STONE, 1974
Konseling adalah interaksi yang terjadi antara dua orang
individu, masing - masing disebut konselor dan klien, terjadi dalam suasana
yang profesional, dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan dalam
tingkah laku klien
GIBSONS,
1981
Konseling adalah hubungan tolong menolong yang berpusat
kepada perkembangan dan pertumbuhan seseorang individu serta penyesuaian
dirinya dan kehendaknya kepada penyelesaian masalah, juga kehendaknya untuk
membuat keputusan terhadap masalah yang dihadapinya
TAYLER,
1969
Dalam konseling bukan hanya klien yang belajar, tetapi
konselor juga belajar untuk memahami dirinya agar suatu persetujuan dapat
dicapai
MACLEAN
Konseling merupakan suatu proses yang terjadi dalam hubungan
tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah yang
tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu
orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai
pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi
WREN,
1955
Konseling adalah suatu hubungan yang dinamik dan bertujuan
antara konselor dan klien
PRAYITNO
& ERMAN ANTI, 1999
Konseling ialah proses pemberian bantuan yang dilakukan
melalui wawancara konseling proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui
wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang
mengalami sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang
dihadapi oleh klien
Menurut Pietrofesa, Leonard, dan Hoose
dalam Andi Mappiare AT merumuskan definisi konseling harus mengandung
unsur-unsur:
- Suatu proses
- Adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesional
- Membantu orang lain
- Untuk memahami diri, pembuatan keputusan, dan pemecahan masalah
- Pertemuan “dari hati ke hati” antar manusia
- Hasilnya sangat tergantung pada kualitas hubungan.
Cavanagh
mendefinisikan konseling sebagai hubungan antara seorang petugas bantuan yang
terlatih dengan seseorang yang meminta bantuan, di mana keterampilan petugas
bantuan tersebut beserta suasana yang diciptakannya dapat membantu orang
belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain dengan cara
yang lebih menghasilkan pertumbuhan. Definisi ini mengandung tujuh unsur kunci.
Jika salah satu dari ketujuh unsure tersebut tidak ada, maka konseling tidak
dapat berlangsung betapa pun baiknya niat orang-orang yang terlibat di
dalamnya.
Ketujuh unsur
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Petugas
bantuan itu merupakan professional yang terlatih. Semakin akademik dan semakin
praktis pelatihan yang pernah diikutinya, akan semakin tinggi kemampuanya untuk
menangani berbagai macam masalah dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
2. Konselor
memiliki hubungan dengan orang yang sedang dibantunya. Ini berarti bahwa
terdapat sekurang-kurangnya saling pengertian, kepercayaan, penerimaan, dan
kerjasama pada tingkat yang memadai. Hubungan professional konseling itu akan
tumbuh semakin dalam sejalan dengan bertambahnya waktu yang dipergunakan untuk
konseling.
3. Seorang
konselor professional perlu memiliki keterampilan konseling dan kepribadian
yang menunjang.
4. Seorang
konselor membantu orang belajar. Ini berarti bahwa konseling merupakan suatu
proses pembelajaran. Melalui proses tersebut orang belajar menghilangkan
perilaku maladaptif dan belajar perilaku adaptif sesuai dengan konteksnya.
Perilaku maladaptif itu dapat normal ataupun abnormal, tetapi sama-sama dapat
mengganggu tercapainya pemenuhan kebutuhan dan pertumbuhan.
5. Orang
belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Ini berarti
bahwa konselor membantu orang berhubungan dengan dirinya sendiri secara lebih
baik agar dapat menjadi lebih terintegrasi dan dapat menghindari konflik.
Belajar berhubungan secara lebih baik dengan orang lain itu penting karena
sebagian besar kebutuhan dasar psikologis dapat dipenuhi hanya melalui hubungan
interpersonal. Hal ini penting juga karena manusia tidak hanya memiliki
tanggung jawab pribadi untuk tumbuh tetapi juga memiliki tanggung jawab social
untuk membantu orang lain tumbuh atau sekurang-kurangnya tidak menghambat
pertumbuhan orang lain.
6. Orang
belajar berhubungan menuju pertumbuhan yang lebih produktif. Pertumbuhan yang
produktif itu mengandung tiga makna. Pertama, ini berarti bahwa orang tumbuh
dalam kompetensi intrapersonal dan interpersonal. Kedua, seyogyanya konseling
diarahkan untuk membantu pertumbuhan kepribadian dan bukan sekedar
menghilangkan gejala-gejala. Ketiga, konseling bukan hanya untuk orang yang
mengalami gangguan psikologis, tetapi juga untuk mereka yang normal tetapi
mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.
7. Konseling
mengandung konotasi hubungan antara seorang konselor dengan seseorang yang
meminta bantuan .
B.
Kaitan
konseling dengan layanan bimbingan di sekolah
Dalam jalur pendidikan formal terdapat
berbagai layanan yang berfungsi untuk menunjang kualitas pendidikan para
peserta didik serta memberi kemudahan bagi mereka untuk mengikuti proses
pendidikan di sekolah. Semua layanan tersebut berada dalam naungan program
bimbingan dan konseling. Layanan program bimbingan dan konseling yang paling
utama adalah layanan konseling, namun ada juga beberapa layanan yang tidak
kalah pentingnya yaitu, layanan orientasi, layanan informasi, layanan bimbingan
penempatan dan penyaluran serta masih banyak lagi layanan lainnya. Meskipun
layanan konseling merupakan layanan utama dari program bimbingan dan konseling,
namun tetap saja layanan konseling sangat berhubungan dan terkait dengan
jenis-jenis layanan BK lainnya serta juga memiliki beberapa persamaan dan
perbedaan. Kali ini sebagai contoh yang akan dibahas adalah kaitan layanan
konseling dengan layanan orientasi, informasi, serta layanan bimbingan
penempatan dan penyaluran.
- Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan
bimbingan yang dikoordinir guru BK atau konselor dengan bantuan semua guru dan
wali kelas dengan tujuan mengorientasikan (mengarahkan, membantu, mengadaptasi)
siswa dari situasi lama ke situasi baru sehingga mereka dapat memahami dan
menyesuaikan diri. Layanan ini biasanya dilakukan pada awal program pelajaran
baru. Materi orientasi biasanya mencakup organisasi sekolah, staf dan guru,
kurikulum, program bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas
atau sarana prasarana, dan tata tertib sekolah. Dari sini tampak bahwa layanan
orientasi mengenalkan segala sesuatu yang ada di sekolah termasuk juga
mengenalkan program bimbingan dan konseling.
Layanan orientasi dan layanan konseling
ini mempunyai keterkaitan satu sama lain bahkan mempunyai hubungan timbal
balik. Bisa dikatakan melalui layanan orientasi inilah siswa dapat mengetahui
seluk beluk mengenai program bimbingan dan konseling. Karena para peserta didik
memang belum pernah mengenal program tersebut sebelumnya, sehingga dengan
adanya layanan orientasi ini para peserta didik menjadi tahu makna, tujuan dan
fungsi adanya layanan konseling. Sebaliknya, layanan konseling ini juga
membantu keberhasilan dalam layanan orientasi. Biasanya meskipun layanan
orientasi telah diberikan, tetap saja masih ada sebagian siswa baru yang belum
begitu mengerti mengenai materi yang diberikan dalam layanan orientasi. Dalam
hal inilah layanan konseling mempunyai peran yang sangat besar untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Siswa yang belum mengerti tentang materi
layanan orientasi sebelumnya dapat mengikuti layanan konseling, karena melalui
pertemuan langsung dengan konselor tersebut mereka dapat lebih memahami layanan
orientasi yang diberikan. Selain itu dalam layanan konseling, layanan orientasi
yang diberikan lebih luas wilayah cakupannya bukan saja mengenai sekolah namun
juga berbagai hal yang diperlukan oleh siswa.
Layanan konseling dan layanan orientasi
ini juga memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan kedua layanan ini terletak
pada faktor tujuan pelayanan dan tempat pelayanannya. Tujuan pelayanan yang
dimaksud adalah sama-sama bertujuan agar siswa dapat memahami dan menyesuaiakan
diri dengan lingkungan yang baru terutama lingkungan sekolah. Untuk tempat
pelaksanaan sama-sama diberikan di lingkungan sekolah. Perbedaanya meliputi
jumlah siswa, waktu pelaksanaan dan pelaksana kegiatan. Biasanya pada layanan
orientasi diberikan kepada sejumlah besar peserta didik atau satu kelas,
sedangkan pada layanan konseling terdiri dari satu atau beberapa peserta didik
saja. Untuk waktu pelaksanaan, layanan orientasi diberikan hanya saat tahun
ajaran baru saja dan layanan konseling dapat diberikan kapan saja disaat
peserta didik membutuhkannya. Pelaksana kegiatan kedua layanan ini pun berbeda,
jika layanan orientasi dapat dalakukan oleh siapa saja yang sangat mengenal
seluk beluk sekolah, sedangkan layanan konseling hanya diberikan oleh guru BK
saja.
- Layanan Informasi
Layanan informasi adalah layanan yang bertujuan memberikan
informasi tentang berbagai hal yang bermanfaat bagi peserta didik melalui
komunikasi langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun
elektronik). Biasanya berupa papan pengumuman, majalah sekolah,
website sekolah, dan lain-lain. Seperti juga layanan orientasi, layanan
informasi ini pun memiliki keterkaitan dengan layanan konseling. Karena dalam
layanan informasi ini, biasanya juga memuat berbagai informasi yang bermanfaat
mengenai program bimbingan dan konseling, misalnya mengenai artikel yang
ditulis oleh konselor, pengumuman jadwal layanan konseling yang diberikan oleh
konselor, layanan konsultasi melalui media informasi sekolah dan lain-lain.
Umumnya informasi yang dibutuhkan oleh siswa meliputi aspek pribadi, sosial,
belajar, dan karir. Namun tidak semua informasi tersebut dapat terpenuhi
melalui layanan infomasi sekolah. Dalam hal ini, layanan konseling dapat
berfungsi sebagai layanan informasi sekolah bahkan informasi yang disampaikan
pun lebih mendetail dan tepat sasaran.
Persamaan layanan informasi dan layanan
konseling selain pada tujuan pelayanan yaitu terletak pada media
penyampaiaannya. Kedua layanan ini sama-sama menggunakan komunikasi langsung
maupun tidak langsung. Untuk perbedaan kedua layanan ini sama seperti perbedaan
yang dimilki layanan orientasi yang terletak pada faktor pelaksana kegiatan.
- Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran
Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran dilakukan untuk
membentuk peserta didik menempati posisi yang sesuai dengan bakat/kemampuan dan
minatnya. Layanan ini dipimpin oleh konselor. Akan tetapi dapat juga dilakukan
oleh wali kelas dengan konsultasi kepala sekolah atau konselor. Dalam kegiatan
ini sangat dibutuhkan campur tangan layanan konseling agar bimbingan penempatan
dan penyaluran dapat berjalan dengan efektif. Layanan konseling tersebut berupa
tes psikologi, pembuatan angket khusus, dan wawancara konseling, karena itu
campur tangan konselor tidak dapat dipungkiri. Dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa layanan bimbingan penempatan dan penyaluran juga membutuhkan
konseling untuk memperoleh hasil yang tepat. Untuk persamaan dan perbedaan yang
dimiliki layanan bimbingan dan penempatan, hempir sama dengan persamaan dan
perbedaan yang telah disebutkan sebelumnya.
C. Kaitan konseling dengan layanan
bimbingan belajar
Seperti yang kita ketahui konselor
tidak hanya diperlukan pada jalur pendidikan formal saja, tapi juga sangat
diperlukan dalam jalur pendidikan non formal. Jalur pendidikan non formal yang
kita maksud saat ini adalah lembaga bimbingan belajar. Saat ini lembaga
bimbingan belajar banyak bermunculan di tiap kota, bagaikan jamur yang tumbuh
di musim hujan. Hal ini terjadi karena selain faktor seleksi masuk perguruan
tinggi ataupun seleksi masuk jenjang pendidikan selanjutnya faktor yang paling
utama yaitu berlakunya sistem Ujian Nasional, yang mengakibatkan banyak peserta
didik yang takut tidak lulus UAN. Akhirnya banyak siswa beramai-ramai
mendaftarkan diri pada lembaga bimbel. Ini berarti lembaga bimbel pun harus
berlomba mempromosikan kualitas akademik yang dimiliki mereka.
Untuk menunjang kualitas akademik,
tentulah mereka tidak hanya membutuhkan seorang tentor yang berkualitas tapi
juga sangat membutuhkan seorang konselor. Ini dikarenakan seorang tentor belum
tentu memperhatikan bagaimana dan apa saja keluhan dari peserta didik, apalagi
tidak menjamin konselor tersebut ahli dalam bidang konseling. Dalam hal inilah
konselor sangat berguna menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut. Melalui
konselor, peserta didik dapat mengonsultasikan permasalahan belajar yang mereka
hadapi, apabila mereka tidak cocok dengan tentor yang bertugas mereka dapat
membicarakannya pada konselor dan konselor akan menggantinya dengan tentor yang
cocok. Selain itu konselor dalam lembaga bimbel ini biasanya bertugas melakukan
training motivasi, tes psikologi, pembuatan angket, dan lain-lain. Training
motivasi biasanya diberikan pada peserta didik yang akan menempuh ujian, agar
mereka tidak lagi mengalami ketakutan dalam melaksanakan ujian, sehingga bisa
memndapatakan nilai maksimal.
Peran layanan konseling dalam lembaga
pendidikan formal ini tidak begitu berbeda dengan layanan konseling di sekolah.
Dengan adanya sebuah layanan konseling di lembaga bimbel tentunya peserta didik
pun menjadi lebih percaya pada kualitas lembaga bimbingan belajar. Itu
merupakan bukti begitu pentingnya keberadaan sebuah layanan konseling pada
sebuah lembaga bimbingan belajar. Dari berbagai penjelasan di atas kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa layanan konseling tidak hanya berkaitan dengan
pendidikan formal saja namun pendidikan non formal juga, seperti contoh pada
lembaga bimbel.
D.
Kaitan konseling dengan psikoterapi
Banyak
bahan pustaka tertulis konseling yang membahas hanya perbedaan antara konseling
dan psikoterapi. Para konselor senantiasa berpandangan bahwa perbedaan tersebut
memeng begitulah adanya. Padahal sungguh pun ada perbedaan antara keduannya,
konseling dan psikoterapi pada dasrnya berurusan pada proses yang sama.berbagai
perbedaan yang ada dan dapat ditunjukkan, lebih bersifat permukaan atau hal-hal
teknik,superficial,ketimbang hal mendasar atau penting ,substansial.
1. Persamaan , pada dasrnya,
tujuan-tujuan konseling dan psikoterapi adalah sama (yaitu, eksplorasi diri,
pemahaman diri, dan perubahan tindakan atau perilaku). Keduanya, lazim pula
mencoba menghilangkan tingkah laku merusak diri (self-defeating) pada klien.
Baik konseling maupun psikoterapi member penekanan pentingnya perkembanagan
pembuatan keputusan dan keterampilan pembuatan rencana oleh klien. Pentingnya
saling hubungan antara klien dan konselor ataupun psikoterapis disepakati
sebagai suatu bagian integral dalam proses konseling ataupun proses
psikoterapi.
Adanya pandangan bahwa
tingkat kedalaman masalah yang dihadapi dalam hal struktur kepribadian individu selaku pembeda antara
konseling dan psikoterapi, tidak didukung oleh para pakar muthakir. Psikoterapi
dan konseling, terutama konseling “pusat klien”, clien centered, atau
akhir-akhir ini dikenal dengan berpusat pada pribadi, person centered,
sama-sama berurusan dengan pribadi yang komplek dan dalam. Leona E. Tyler
(1969) 10 menyiratkan bahwa
kedalaman pemahaman atas kekomplekan pribadi hendaknya dikembangkan dalam tiap
hubungan konseling, dan bahwa tidak ada upaya-upaya dangkal dalam konseling ;
tidak ada kasus yang rutin.
Pernyataan lengkap Tyler
dimaksud tertulis :
…the depth of understanding
and the interest in the full complexity of personality characteristic of
psychotherapy at its best sould be built in to every counseling relationship.
Superficiality has no place in this endeavor; there are no “routine” case
(h.13).
Dekat-dekat dengan keyakinan
di atas, S.Narayana Rao (1984)11 mengutip pandangan Patterson (1973)
yang menyatakan bahwa “the so called
counselors practiced psychotherapy while psychotherapy practiced
counseling” (h.27). selanjutnya , S. Narayana Rao sendiri berpandangnan bahwa konselor tidak perlu dan
kerap kali tidak dapat membatasi
dirinya menangani “klien yang
normal” saja.
2. Perbedaan, dalam perkembangan
mutakhir, semakin sukar ditemukan pokok-pokok perbedaan antara konseling dengan
psikoterapi. Cara yang paling aman melacak perbedaan antara keduanya adalah
dengan menyoroti dari beberapa segi relevan.hal demikian inilah yang dicoba
lakukan dalam bagian berikut ini.
a.
Konseling dan psikoterapi dapat dipandang
berbeda lingkup pengertian antara keduannya. Istilah “psikoterapi” mengandung arti
ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada sesuatu yang jelas yaitu satu bentuk
terapi psikologis. Tetapi pada lain segi, ia menunjuk pada sekelompok terapi
psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik
dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah
satu bentuk psikoterapi. Ungkapan asli dari S. Narayana Rao (1984)12 itu berupa kalimat :
The term
‘Psychotherapy’ , on closer examination, appear to be vague. On the one hand,
it refers to what is patent --- the psychological form of therapy. On the other
hand, it refders to host of psychological theraphies, the board spectrum of
which has hypnosis at its one extreme an counseling at the other. Counseling
thus is a form of psychotherapy (h.23).
Dari
konsep diatas ini dapat diturunkan lukisan seperti tampak pada gambar 2-3.
b.
Konseling lebih berfokus pada konseren,
ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi
lebih memokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan.
Ungkapan aslinya dikemukakan oleh Pietrofesa,dkk. (1978)13 seperti ini :
We do
accept the fact that counseling does focus more upon
developmental-educational-preventive consern
while psychotherapy focuses more upon remediative-adjustive-therapeutic,
but neither to the exlusion of the other (h.36).
c.
Konseling dijalankan atas dasar (atau dijiwai
oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi
dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi ; sebagai dikatakan
oleh Gary S. Belkin (1975)14 :
Counseling
built upon an underlying psylosopical
foundation, while psychopathology, theory of personality, and corpus of
spesific techniques (h.29).
Perlu
ditambahkan bahwa konseling pun memanfaatkan keterangan dari teori-teori
kepribadian, dan teori-teori psikologi lainnya, bahkan banyak ilmu lain yang
tercakup dalam keilmuan perilaku (behavioral science), namun semua itu bukan
dasar kerjanya tetapi merupakan sumber keterangan bantu bagi memahami individu.
d.
Konseling dan psikoterapi berbeda tujuan dan
cara mencapai tujuan masing-masing. Dijelaskan dengan cukup gambling oleh S.
Narayana Rao (1984)15 bahwa
tujuan psikoterapi adalah mengatasi kelemahan-kelemahan tertentu melalui
beberapa cara praktis, mencakup “pembedahan-psikis” (psycho-surgery) dan
pembedahan otak. Konselor, pada lain pihak, berurusan dengan identifikasi dan
pengembangan kekuatan-kekuatan positif pada individu. Ini dilakukan dengan membantu klien untuk menjadi seorang yang
berfungsi secara sempurna, ‘fully functioning person’. Lebih rinci lagi,
dijelaskan oleh S. Narayana Rao dengan kalimat :
The
techniques employed in the two fields may be disparate. In psychiatnis
psychotherapy the treatmen is physical, that is, it is either through the
administration of drugs, electro-convulsive therapy or psychosugery largery on
the organik basic, in terms of the
medical model of treatment. On the other hand, in counseling,result or secured
through the psychological techniques of estabilishing raport an providing warmnt
an support to the client to help him in sight in to himself. The counseling
process is essentially a learning process (h.26).
E.
Kaitan
konseling dengan layanan pengobatan alternatif (dalam agama islam)
Di kalangan masyarakat terpelajar sudah
dikenal adanya layanan konseling, karena memang profesi konselor dapat dengan
mudah ditemui di daerah perkotaan. Orang terpelajar secara sadar mencari solusi
problemnya dengan mencari konselor, sementara orang awam tidak tahu persis apa
problemnya, dan tak tahu juga harus kemana. Namun demikian bukan berarti
masyarakat awam tidak mengenal layanan konseling yang bernuansa psikologi. Di
kalangan masyarakat pedesaan, orang yang mengalami problem kejiwaan biasanya
pergi kepada kyai. Bahkan saat ini bukan masyarakat awam saja, namun masyarakat
perkotaan juga ada yang menggunakan layanan yang disebut pengobatan alternatif
ini.
Dalam layanan ini biasanya kyai
memberikan layanan yang bernuansa psikologis, tetapi bukan berbasis psikologi,
yakni berbasis akhlak dan tasauf. Sebagaimana diketahui dalam sejarah keilmuan
Islam tidak muncul ilmu semacam psikologi yang berbicara tentang tingkah laku.
Jiwa dalam sejarah keilmua Islam dibahas dalam ilmu akhlak dan ilmu tasauf. Apa
yang dilakukan oleh para kyai barangkali memang tidak “ilmiah”, tetapi tak
terbantah justru banyak yang bernilai tepat guna, karena memang tidak
dipungkiri bahwa kita juga membutuhkan layanan yang bernuansa religi. Hingga
hari ini masih banyak orang mencari pengobatan alternatif setelah gagal
menjalani terapi modern melalui konselor psikologi.
Dengan
penjelasan sebelumnya kita dapat mengetahui bahwa layanan konseling juga
memiliki keterkaitan dalam layanan pengobatan alternatife. Memang sebuah
layanan konseling seharusnya dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya. Namun
dalam hal ini kyai pun bisa disebut sebagai orang yang ahli dalam bidang
keagamaan, dan juga memiliki ilmu psikologi yang berdasarkan kitab suci dan
hadist. Sehingga layanan yang dilakukan oleh kyai ini pun bisa disebut
konseling. Yang membedakan hanyalah jika pada layanan yang diberikan oleh
konselor berdimensi horizontal, sedangkan layanan yang diberikan kyai
berdimensi vertikal dan horizontal.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Konseling
adalah rangkaian kontak atau hubungan secara langsung maupun tidak langsung
antara konselor dengan konseli guna membantu memahami diri sesuai dengan
potensi yang dimiliki konseli secara optimal atau memecahkan masalah yang
dialami konseli.
Layanan
konseling memiliki beberapa relasi baik secara teori maupun prosedural dengan
layanan-layanan lainya seperti :
1. Layanan
Konseling dengan Layanan Bimbingan di Sekolah
2. Layanan
Konseling dengan Layanan Bimbingan Belajar
3. Layanan Konseling dengan Psikoterapi
4. Layanan
Konseling dengan
Layanan Pengobatan Alternatif (Dalam Agama Islam)
DAFTAR RUJUKAN
Gunawan, Yusup. 1992. Pengantar
Bimbingan dan Konseling: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
Mappiare, Andi AT. 2006. Pengantar
Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Mappiare
Andi AT.1992.Pengantar Ke Pemahaman
Konseling.Malang.Depdikbud Ikip Malang
Tarsidi, Didi. 2007. Counseling. (online)( http://d-tarsidi.blogspot.com/2007/11/makna-konseling-dan-psikoterapi_22.html). Diakses tanggal 5 februari 2012
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling
Individual: Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta
____________.2007.definisi
konseling.(online)(http://carapedia.com/pengertian_definisi_konseling_info2089.html). Diakses tanggal 5 februari 2012

0 komentar:
Posting Komentar